
BERITAMAGELANG - Ubi jalar madusari, produk andalan petani Kecamatan Windusari Kabupaten Magelang, akhir-akhir ini seperti menghilang dari pasaran. Beberapa pedagang di Pasar Bandongan yang biasa menjajakan ubi manis bak madu itu mengatakan kehabisan stok.
"Ubi yang dari Windusari baru kosong. Yang saya jual ini katanya dikirim dari Jawa Timur. Soal rasa saya tidak tahu manis atau tidak. Kalau ubi dari Windusari kadang-kadang ada, tetapi banyak yang gabaren (busuk)," ungkap seorang pedagang di Pasar Bandongan, As.
Tak berbeda dengan situasi pasar, warung rumahan di seputar pasar Bandongan yang biasa menjual ubi madusari menyebut sudah lama tidak mendapat pasokan ubi jalar.
"Saya tadi di warung beli satu kilo. Penjualnya mengatakan ubinya sudah lama tidak terjual tapi tetap saya beli ternyata ubi itu sudah gabaren (busuk) tidak enak sekali kalau dimakan," ujar Bandi.
Padahal, lanjutnya, harganya mahal, Rp6.000 per kilogram.
Bukan hanya di wilayah Kecamatan Bandongan, di pusat produksinyapun, yaitu Kecamatan Windusari, ubi jenis ini juga tak terlihat diperdagangkan orang. Tempat-tempat di Windusari yang biasa digunakan berjualan ubi jalar, yaitu di Jalan Kyai Arof dan Desa Candisari juga terlihat kosong.
"Sudah sebulan ini pedagang ubi di depan rumah saya selalu tutup. Tidak mengerti penyebabnya apa. Biasanya kalau ada tamu saya selalu membeli untuk oleh-oleh. Kemarin pas mau beli ternyata tutup," ungkap seorang warga di seputar Kantor Kecamatan Windusari, Yani.
Busuk Batang Perlu Diversifikasi
Di tempat terpisah, Ketua Forum Petani Multikultur Indonesia, Istanto, mengatakan kelangkaan komoditas ubi jalar terjadi karena terdampak cuaca ekstrem yang sedang berlangsung pada musim penghujan ini.
"Pergantian musim dari kemarau ke musim penghujan yang terlalu banyak ternyata menyebabkan berkembangnya bakteri yang memicu terjadinya busuk batang. Produksipun menurun, ujarnya ketika ditemui di rumahnya di Dusun Truni Desa Candisari Kecamatan Windusari Kabupaten Magelang, Selasa (4/2/2025).
Kalaupun tidak menyebabkan gagal panen, busuk batang akan menjadikan kualitas hasil panen tidak sesuai dengan harapan.
"Pokoknya mengecewakan," ujarnya.
Pernyataan itu dibenarkan seorang petani muda dari desa Windusari, Ardi.
"Hujan lebat yang terjadi membawa penyakit pada ubi jalar. Karenanya saya lebih fokus menanam padi dulu sekarang ini. Biarlah penyakit busuk batangnya berhenti dulu. Semoga tanah kembali sehat seperti sedia kala baru kita usahakan menanam kembali," harapnya.
Istanto memprediksi merajalelanya busuk batang menyebabkan 40 persen lahan ubi jalar madusari di wilayah Windusari mengalami kerusakan dan gagal panen. Kerusakan yang terjadi juga memaksa sebagian petani akan beralih ke tanaman seperti cabe, jagung dan lain lain.
"Alhamdulilah jagung bisa laku Rp5.000 per kg, cabe Rp50.000 sampai Rp80.000 per kg dan tomat Rp6.000 - Rp8.000 per kg," ujarnya.
Tudingan Istanto bahwa cuaca ekstrem menjadi penyebab gagalnya panen ubi jalar madusari kiranya juga tak berlebihan. Di sepanjang jalan menuju Desa Genito dari arah Kota Kecamatan Windusari hanya ada beberapa kotak lahan yang ditanami ubi jalar, sebagian terlihat belum ditanami dan sebagian lagi ditanami dengan tanaman lain seperti cabe.