Digitalisasi, Perpustakaan Klenteng Hok An Kiong Muntilan Temukan Arsip Kuno

BERITAMAGELANG.ID - Digitalisasi arsip dilakukan Klenteng Hok An Kiong Muntilan Kabupaten Magelang sebagai upaya pelestarian ribuan buku kuno di perpustakaan tersebut.


Proses digitalisasi oleh Astrid Siva Salsabila, Revan Aditya dan Reza Maulana dari UGM Yogyakarta ini merupakan kerja sama Modern Endangered Archives Program dari Universitas California Los Angeles (UCLA) sejak 2023. Target program tersebut adalah 10 ribu lembar buku teridentifikasi scan/pindai digital.


"Kami sudah memindai 200 buku di perpustakaan ini dan masih banyak yang belum tersentuh (discan)," kata Astrid saat ditemui, Selasa (4/2/2025).


Ditambahkan Astrid, dari identifikasi sementara ribuan buku koleksi Klenteng Hok An Kiong Muntilan, terdiri dari buku pendidikan, agama Tionghoa serta majalah agama yang beberapa tertulis edisi cetak 1938. Banyak juga buku atau majalah tersebut masuk edisi terbatas untuk kalangan sendiri (warga Tionghoa).


Program digitalisasi saat ini masih fokus pada buku agama Tionghoa yang berhubungan dengan Tri Dharma, lebih spesifik Buddhisme, Taoisme, maupun Konghucu periode cetak sebelum 1998. Karena kendala bahasa, spesifikasi pindai juga khusus buku lama berbahasa Indonesia Melayu.


Dalam prosesnya, juga ditemukan buku cetak tertua 1920. Namun demikian, dimungkinkan masih ada yang lebih tua dari buku berbahasa Mandarin tersebut.


"Salah satu buku yang berhasil dipindai adalah perayaan Sin Cia di Magelang berbahasa Mandarin, Belanda dan Melayu. Bahkan beberapa buku yang sudah kami pindai sudah ada dari tahun 1930-an," tutur Astrid.


Menurut perkiraan Astrid, perpustakaan Klenteng Hok An Kiong sudah ada sebelum 1800, menjadi satu dengan sebuah lembaga pendidikan warga Tionghoa di wilayah Magelang, yakni Sekolah Rakyat Setia Dharma yang ditutup 1965.


"Tidak dapat dipungkiri ini menjadi bagian sejarah bangsa Indonesia. Kami melihat bahwa di Muntilan ini banyak dokumen berharga dan bersejarah, tapi sayang belum banyak orang yang peduli untuk penyimpanannya," ungkapnya.

Berdasar informasi, digitalisasi perpustakaan Klenteng Muntilan ini baru pertama di lndonesia. Hasil dari digitalisasi itu nantinya arsip kuno yang sudah tersusun dapat diakses publik secara luas.


Hal itu untuk mempermudah kalangan akademisi dalam dan luar negeri untuk menelitinya.


"Nanti dikelola, dimajukan agar klenteng menjadi pusat kebudayaan. Misalnya ada yang study tour dari universitas mana ke sini. Itu boleh," ungkap Ketua Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Hok An Kiong, Budi Raharjo.