
BERITAMAGELANG.ID - Kelenteng Hok An Kiong menjadi penanda komunitas Tionghoa pernah tumbuh dan berkembang di Muntilan Kabupaten Magelang. Potongan sejarah yang membentuk budaya masyarakat kita hari ini.
Setidaknya ada tiga hal yang menjadikan kelenteng Hok An Kiong boleh dibilang unik dan istimewa. Keistimewaan itu menunjukkan karakter kelenteng yang terbuka dan mendapat sokongan besar dari komunitasnya.
Keistimewaan pertama: kelenteng Hok An Kiong menyimpan hio loo atau tempat dupa berukuran kolosal. Hio loo seberat 3,8 ton dengan diameter 178 cm itu konon terbesar se-Asia.
Keunikan kedua, di Hok An Kiong terdapat altar doa untuk Presiden Abdurrahman Wahid. Pada pemerintahan Gus Dur, Komunitas Tionghoa mendapat kembali hak untuk beribadat dan beraktifitas secara bebas.
Keistimewaan kelenteng yang ketiga, dan kami yakin belum banyak orang mengetahui, bahwa di kelenteng Hok An Kiong ada perpustakaan yang mengoleksi lebih dari 1.000 judul buku.
Hok An Kiong menjadi salah satu dari sedikit Tempat Ibadah Tri Dharma berusia ratusan tahun yang memiliki perpustakaan dengan jumlah buku signifikan.
Dugaan sementara hanya ada dua tempat ibadah Tionghoa di Indonesia yang memiliki koleksi buku lebih dari 1.000 judul. Selain Hok An Kiong, ada satu lithang di Solo.
Lithang adalah tempat ibadah khusus umat Konghucu. Berbeda dengan Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) yang memfasilitasi jemaat Buddha, Tao, dan Konghucu.
"Di kota-kota besar ada (koleksi buku), tapi cuma satu rak baca. Ketika kami pertama kali datang survei, cukup kaget, ternyata banyak ya (koleksi buku)," kata Astrid Salsabila.
Menurut Astrid yang lulusan Master Program of Center for Religious & Cross-cultural Studies, Universitas Gadjah Mada, keberadaan perpustakan terkait dengan sekolah Tiong Hwa Hak Hauw di Muntilan.
Center for Religious & Cross-cultural Studies UGM sedang ada proram kerja sama digitalisasi buku koleksi kelenteng. Koleksi perpustakaan banyak yang dulu buku milik sekolah Tionghoa.
Sekolah anak keturunan Tionghoa itu pernah berdiri satu kompleks dengan kelenteng. Begitu besarnya pengaruh sekolah Tiong Hwa Hak Hauw, disebut pernah menandingi sekolah sejenis milik Belanda.
Tiong Hwa Hak Hauw
Astrid menunjukkan buku peringatan 47 tahun Tiong Hwa Hak Hauw (THHH). Buku yang terbit pada 1954 itu menuliskan bahwa Wijkmeester, The Tjien Ing yang pertama kali mencetuskan ide mendirikan sekolah Tionghoa di Muntilan.
Wijkmeester adalah jabatan setingkat lurah yang khusus membawahi komunitas Tionghoa. Saat itu pemerintah Belanda membagi masyarakat dalam 3 kelompok etnis: Pribumi, Timur Asing, dan Eropa.
The Tjien Ing prihatin, anak-anak yang umumnya bersekolah di lembaga swasta, diajar oleh guru Tiongkok totok. Murid yang di rumah biasa berbicara Jawa atau Melayu, kesulitan menerima pelajaran yang disampaikan dalam dialek Hokkian.
Pengalaman masa kecil The Tjien Ing yang pernah diajar oleh guru bernama Liem Djing He, mendorongnya membangun sekolah baru. Liem Djing He orang Hokkian yang dapat menerjemahkan Tionghoa ke bahasa Jawa atau Melayu.
Tahun 1908, The Tjien Ing membuka sekolah Kuo Yu untuk anak-anak Tionghoa. Sekolah ini menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa sebagai pengantar belajar.
Kurikulum bahasa Tiongkok dialek Hokkian tetap diajarkan. Anak-anak bahkan menerima pelajaran membaca buku-buku beraksara Hanzi, yang saat itu hanya dipelajari di daratan Tiongkok.
Metode belajar di sekolah Kuo Yu mula-mula ditolak oleh orang tua murid yang berpikiran kolot. Mereka menolak anak-anak belajar menggunakan bahasa pengantar Jawa atau Indonesia.
Pengaruh Wijkmeester, The Tjien Ing pelan-pelan mengubah pendapat orang tua murid. Belakangan mereka mendukung sekolah, bahkan bersedia memberi sumbangan uang, bangku, dan meja untuk sarana belajar.
Ada banyak warga Tionghoa yang memberi bantuan rutin sebesar 1 sampai 2,5 gulden setiap bulan. Sumbangan itu dipakai membayar kontrak rumah bulanan senilai 15 gulden.
Hingga 1912, sekolah Kuo Yu menempati rumah sewa bekas penjual candu. Tahun 1860 Hindia Belanda melegalkan penjualan opium di tanah jajahan mereka.
Kelindan kelenteng dan Sekolah
Tuan Controleur Muntilan kemudian menyarankan pengelola sekolah mengurus badan hukum sekaligus mendirikan kelenteng. Tahun 1911 komunitas Tionghoa mulai membangun kelenteng Hok An Kiong.
Di kelenteng Hok An Kiong yang baru selesai dibangun, The Tjien Ing dilantik naik pangkat menjadi Kapitan oleh Residen Magelang.
Setahun kemudian, sekolah Kou Yu dipindah ke belakang kompleks kelenteng Hok An Kiong. Namanya berubah menjadi Tiong Hwa Hak Hauw.
"Tiong Hwa Hak Hauw dulu ada kontestasi dengan Hollandsch Chineesch School (HCS). Sekolah Tionghoa berbahasa Eropa itu rebutan anak-anak (murid) Tionghoa," kata Astrid.
Tiong Hwa Hak Hauw semakin maju setelah Hollandsch Chineesch School bubar tahun 1942. Semua muridnya ramai-ramai pindah ke Tiong Hwa Hak Hauw.
Tapi nasib sama menimpa Tiong Hwa Hak Hauw. Tahun 1959 pemerintah Presiden Soekarno mengharuskan seluruh sekolah di-nasionalisasi.
Tidak boleh ada "sekolah asing" di wilayah Kawedanan Muntilan. Tiong Hwa Hak Hauw kemudian berubah menjadi Sekolah Rakyat Setia Dharma.
"Sayangnya sekitar tahun 1965 sekolah ditutup. Menurut beberapa informan saya yang juga dulu sekolah di Sekolah Rakyat Setia Dharma, (murid-muridnya) dipindahan ke sekolah-sekolah lain,"Â ungkapnya.
Situasi politik yang lebih terbuka setelah Reformasi 1998, tidak mampu mengembalikan kegiatan sosial warga Tionghoa seperti semula. Warga terlanjur enggan kembali beribadah di kelenteng.
Apalagi sebelum Keputusan Presiden Nomor 6 tahun 2000 mengakui Konghucu sebagai agama resmi, orang-orang Tionghoa banyak yang memilih keyakinan sesuai agama yang diakui pemerintah.
Generasi peranakan Tionghoa yang sekarang memeluk agama baru, tinggal menyisakan ikatan keyakinan dengan agama nenek moyang sebatas tradisi.
"Kita putus beberapa generasi. Sekarang sudah mulai maju tapi (pengurus kelenteng) sudah tua-tua. Yang muda-muda sekolahnya di Kristen, Katolik, sebenarnya nggak apa. Cuma kita terputus itu," kata Ketua Pengurus TITD kelenteng Hok An Kiong, Budi Raharjo.
Terbuka untuk Studi Kebudayaan
Kami datang ke kelenteng seminggu setelah perayaan Imlek. Beberapa warga keturunan Tionghoa tampak masih menggelar ibadat, karena rangkaian perayaan tahun baru Imlek masih akan berlangsung hingga Cap Go Meh.
Di tengah hiruk pikuk peribadatan, kami menemui Budi Raharjo. Dia mengeluh sejak 1987 tidak bisa pensiun dari jabatan ketua pengurus.
Tidak ada orang yang mau menggantikan posisinya.
"Adanya cuma gitu-gitu saja. Makanya kelenteng di Indonesia jarang yang bisa maju pesat,"Â terangnya.
Budi menyampaikan keinginannya untuk kembali membuka sekolah Tionghoa di kompleks kelenteng. Ada potensi anak-anak Tionghoa tertarik belajar di sekolah tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin.
Sekolah Bakti Tunas Harapan, salah satu yang menggunakan kurikulum pengajaran tiga bahasa. Istilah yang mereka gunakan, Trilingual National School.
Tapi begitu mengingat banyak warga keturunan Tionghoa yang sekarang ogah-ogahan bersinggungan dengan kegiatan kelenteng, Budi menjadi ragu. Memiliki modal bangunan saja, tidak cukup untuk membangun sekolah.
"Tempat, kita ada. Permasalahannya kita bisa mencari (murid) tidak? Kalau mau jadi umat, saya kira kami juga nggak narik umat. Kami welcome saja," imbuhnya.
Sikap Budi sangat terbuka kepada pihak yang berminat menghidupkan kembali sekolah dan perpustakaan. Menurut dia, kelenteng terbuka dikunjungi untuk tujuan belajar dan pemajuan kebudayaan.
Budi berharap, perpustakaan di kelenteng Hok An Kiong menjadi sarana khalayak umum mempelajari kebudayaan Tionghoa.
"Harapan kami ada yang bisa melestarikan kebudayaan Tionghoa. Cuma itu. Lain nggak ada," tutupnya.