
BERITAMAGELANG.ID - Kuda-kuda tangguh peranakan Kedu boleh jadi kini punah. Ada keinginan untuk kembali menghidupkan tradisi berkuda, sekaligus menakar potensi ekonomi di baliknya.
Meski dikalahkan oleh motor dan mobil, kuda penarik andong masih eksis di sejumlah kawasan tertentu di Magelang. Andong masih bisa ditemukan mangkal di pasar atau menjadi kendaraan wisata.
Potensi pendapatan dari menarik andong bisa dibilang besar. Apalagi bagi kusir yang punya akses untuk menarik kuda di kawasan Candi Borobudur.
Rohmat Mulyanto salah satu kusir andong wisata di kawasan Candi Borobudur, mengaku mendapat penghasilan sekitar Rp300 ribu sehari. Jika musim liburan, penghasilannya naik menjadi Rp500 ribu.
Pendapatan itu diperolehnya dari bagi hasil penjualan tiket wisata Andong Tilik Ndeso. Dari setiap tiket seharga Rp100 ribu, Rohmat mendapat bagian Rp40 ribu.
"Kita kan kerja sama dengan pihak pengelola Borobudur. Kalau pas Lebaran dan musim libur (hasilnya) luar biasa. Kan cuma muter di dalam kompleks candi. Paling 12 menit," kata Rohmat.
Menarik andong di dalam kompleks Candi Bodorbudur, Rohmat bersama 35 kusir lainnya bergabung dengan komunitas Turangga Jaya. Secara bergiliran mereka mendapat izin ngandong di zona 2 Borobudur.
Jika tidak sedang menarik andong masuk kawasan Candi, Rohmat membawa kudanya mangkal di pasar. Hasilnya lumayan, tapi tidak sebesar mengantar wistawan.
Masa Emas Andong Pasar
Rohmat mengaku belajar memelihara kuda sejak 1980-an saat masih tinggal di Patosan, Muntilan. Bapaknya yang juga kusir andong memelihara lima ekor kuda dan sering mangkal di Pasar Muntilan.
Sebelum bangunan pasar dipugar akibat kebakaran, penghasilan kusir andong yang mangkal di Pasar Muntilan cukup besar.
Pendapatan kusir andong dalam sehari pasaran setara dengan harga satu gram emas.
"Sekarang harga satu gram emas kan Rp800 ribu. Tahun 1990-an pendapatan kusir andong ya sekitar segitu. Apalagi pas hari pasaran Kliwon," ungkap Rohmat.
Saat itu belum banyak saingan ojek maupun angkutan umum. Pengunjung pasar belum banyak yang memiliki motor sendiri.
"Belum banyak motor. Belum ada HP. Ojek online belum ada. Satu gram emas lho kami dapat setiap hari pasaran. Kendaraan umum paling hanya bus Cemoro Tunggal dan Ragil Kuning," kisahnya.
Selain menarik andong, Rohmat juga menjalankan usaha jual beli kuda kecil-kecilan. Berbekal pengalaman mengurus kuda sejak masik anak-anak dia paham karakter dan jenis kuda unggul.
Cuan Usaha Jaran
Di Magelang terutama Borobudur, ada peternak kuda skala kecil. Peternak besar biasanya berasal dari Yogyakarta atau Bandungan, Ambarawa.
"Jadi sekarang kuda itu dipadukan (kawin silang). Kuda asli Sumbawa kan agak kecil. Banyak yang dikawinkan silang dengan kuda pacu atau istilahnya di-cross dengan kuda andong," lanjutnya.
Keturunan kuda Sumbawa tadi akan dikawinkan dengan jenis thoroughbred atau kuda trah unggul yang dibiakkan khusus untuk pacuan. Dari hasil kawin silang ini dihasilkan kuda KP atau kuda pacu.
Ada juga Kuda Pacu Indonesia (KPI) yang diakui sebagai kuda ras atau rumpun baru, hasil kawin silang kuda generasi (G) atau thoroughbred. Kuda keturunan baru ini bisa dicatatkan dalam studbook yang diakui Pordasi sebagai buku catatan trah kuda.
Sayangnya, kuda pacu tidak bisa diiukutkan dalam lomba pacuan kategori umur. Kuda pacu hanya dapat mengikuti pacuan kelas tinggi badan. Kuda pacu atau KP tidak dapat mengikuti pacuan untuk prestasi berjenjang seperti kuda KPI atau G.
Kuda untuk andong biasanya dilatih sejak usia dua tahun. Kuda mulai diajak turun ke jalan agar beradaptasi dengan lingkungan sekitar sebelum dirasa mampu dipakai bekerja.
"Umur kuda rata-rata 25 sampai 30 tahun dengan syarat kondisinya sehat. Usia puncak produktif antara lima tahun sampai 12 tahun itu grafiknya masih naik," terangnya.
Setelah berusia 15 tahun, kondisi kuda biasanya menurun. Kestabilan emosi dan tenaga kuda mencapai puncaknya pada usia 8 tahun sampai 12 tahun.
"Kalau sudah 15 tahun, masih bisa untuk narik andong tapi emosinya sudah tidak stabil. Merawat kuda itu main insting dari kebiasaan. Kusir tahu ini kuda capek atau tidak,â kata Rohmat.
Kuda produktif berusia lebih dari 3 tahun, biasanya laku dijual Rp35 juta-Rp40 juta.
"Kalau sudah usia 15 tahun harganya turun," imbuhnya.
Menurut Rohmat, jual beli kuda sampai hari ini masih menjanjikan. Selain dipakai bekerja, kuda juga dijual untuk melayani kesenangan para penghobi.
Berbeda dengan sapi yang harga jualnya ditakar berdasarkan bobot daging, harga jual kuda di mata penghobi bisa tidak berbatas nilainya.
"Untuk kebutuhan hobi tetap menjanjikan. Beda dengan sapi. Sapi kan ada standarnya (berdasarkan bobot) daging. Kuda tidak. Takarannya hobi, jadi standar harganya mengikuti kesukaan hati," ujarnya.
Tersisa di Pinggiran
Beberapa kusir andong, terutama pada Minggu sore, sering terlihat mangkal di jalan samping Komplek Setda Kabupaten Magelang. Mereka menyasar penumpang orang tua yang mengajak anaknya pelesiran di daerah itu.
Pranoto (51 tahun) mengaku sudah beberapa kali mengajak anaknya melihat kijang di samping taman Komplek Setda Kabupaten Magelang. Tapi baru sekali ini punya kesempatan naik andong.
"Tadinya saya belum tahu kalau di sini suka mangkal andong. Padahal kami sering datang lihat kijang," kata Pranoto.
Cukup membayar ongkos Rp50 ribu, Pranoto sudah bisa mengajak anaknya pelesiran naik andong hingga sekitar Candi Borobudur.
Warga Glagah, Mertoyudan ini mengaku sekarang cukup sulit mencari andong di Magelang. Tinggal tersisa andong wisata di kawasan Candi Borobudur.
Sebab itu, Pranoto menggunakan kesempatan liburan kali ini untuk mengenalkan pengalaman naik andong kepada anaknya.
"Menyenangkan. Itung-itung cari pengalaman untuk anak-anak," kata dia.